Selamat datang di rumah maya nya Rajim
Posts tagged Obligasi Ritel Indonesia
Wanti-wanti: Berinvestasi di ORI
Aug 22nd
Oleh Reslian Pardede,
MUNCULNYA ORI atau obligasi negara yang dijual secara ritel tentu patut disambut gembira karena instrumen ini memperkaya pilihan investasi dari pemodal ritel. Selama ini, pemodal ritel (terutama yang memiliki modal terbatas) sulit mengakses obligasi secara langsung mengingat nominal transaksi obligasi yang cukup besar (biasanya minimum Rp 1M). Namun, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di ORI 001 (selanjutnya disebut ORI), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Pertama-tama, mari kita melihat imbal hasil yang diberikan ORI. Rencananya ORI akan memberikan kupon (menjadi imbal hasil jika dibeli pada harga 100%) sebesar 12,05% per tahun yang berarti setelah pajak menjadi 9,64% per tahun. Melihat karakteristik ORI dan pemodal ritel yang menjadi target utama ORI, sangat layak jika ORI dibandingkan dengan suku bunga deposito bulanan saat ini yang berada di kisaran 11,7% per tahun atau 9,36% per tahun setelah pajak. Ada selisih imbal hasil antara ORI dengan deposito bank sebesar 0,28% per tahun. Pertanyaannya, apakah selisih tersebut cukup untuk mengkompensasi “kekurangan” ORI dibanding deposito yaitu dalam hal tenor, likuiditas dan transparansi harga.
Pemodal ritel harus sungguh-sungguh memperhatikan horison investasi mereka jika hendak membeli ORI yang memiliki tenor (jangka waktu sampai jatuh tempo) tiga tahun. Selama ini, horison investasi sebagian besar pemodal ritel di Indonesia (yang berinvestasi di reksa dana dalam beberapa tahun terakhir) adalah jangka pendek, bahkan sangat pendek yang berkisar antara satu sampai tiga bulan. Sebenarnya horison investasi tidak harus match dengan tenor suatu instrumen. Mismatch antara horison investasi dan tenor bisa memberi capital gain namun bisa juga membawa capital loss.
Pelaku pasar professional bahkan seringkali dengan sengaja menciptakan mismatch dalam melakukan trading. Namun keuntungan tersebut hanya akan terealisir jika harga bergerak sesuai dengan posisi yang diambil pelaku pasar tersebut. Capital loss itu sendiri bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain pergerakan suku bunga. Bagaimana dengan peluang suku bunga untuk turun ke 10% yang oleh beberapa pengamat dikatakan cukup besar? Bukankah ada peluang memperoleh capital gain?
Peluang itu tentu saja ada. Akan tetapi, di tengah kecenderungan kenaikan suku bunga yang dilakukan beberapa bank sentral seperti di Jepang dan Australia belakangan ini dan harga minyak yang cenderung naik akibat eskalasi krisis Timur Tengah, peluang suku bunga untuk tidak turun atau bahkan naik juga ada. Lebih daripada itu, mengingat karakteristik pemodal ritel dan melihat bahwa pasar obligasi ritel ini sendiri belum teruji baik dari segi likuiditas maupun pembentukan harganya (price discovery) tentu hal yang wajar jika dikatakan bahwa eksposur terhadap capital loss lebih besar jika ORI dijual dalam jangka pendek.
Bagaimana dengan pemodal yang memiliki horison investasi kurang dari tiga tahun? Selain pergerakan harga akibat suku bunga seperti yang dijelaskan di atas, likuiditas menjadi faktor kunci yang harus dipertimbangkan oleh pemodal ritel seperti ini. Resiko likuiditas dikatakan kecil apabila kita bisa membeli atau menjual suatu instrumen secara cepat tanpa mempengaruhi harga secara signifikan. Ada banyak pelajaran yang bisa mengingatkan kita betapa pentingnya likuiditas ketika suatu industri keuangan berhubungan dengan nasabah atau pemodal ritel. Salah satu bank terbesar di Indonesia pernah ambruk karena di-rush oleh nasabah hanya dalam beberapa hari.
Industri reksa dana tahun lalu remuk redam setelah dihantam kepanikan pemodal ritel yang melakukan penarikan dana secara massal. Terjadi penurunan harga obligasi yang luar biasa yang tidak terkait dengan faktor utama penentu harga obligasi seperti pergerakan suku bunga maupun kemampuan bayar emiten. Semua terjadi karena kepanikan pemodal yang mengakibatkan terkurasnya likuiditas. Tetapi kedua peristiwa itu bisa kita golongkan sebagai kejadian luar biasa.
Bagaimana dengan likuiditas dalam keadaan normal? Ada dua indikator yang bisa menunjukkan tingginya likuiditas yaitu besarnya volume transaksi dan tipisnya perbedaan (spread) antara bid (penawaran harga beli) dengan asked price (penawaran harga jual). Untuk menciptakan volume transaksi yang besar, syarat utama yang harus terpenuhi adalah besarnya jumlah serta meratanya penyebaran pembeli dan penjual. Namun itu saja tidak cukup. Untuk itu diperlukan market maker. Bagi obligasi ritel, peran market maker ini menjadi sangat penting. Market maker tidak hanya berfungsi sebagai broker yang hanya mempertemukan pembeli dan penjual melainkan ikut aktif mengambil posisi atau melakukan transaksi dengan selalu memberikan kuotasi harga beli dan jual untuk suatu obligasi tertentu. Selama ini, di pasar obligasi Indonesia belum pernah ada market maker dalam arti yang sebenarnya. Pemodal ritel yang tidak mempunyai akses seluas pemodal institusional tentu akan sangat terbantu dengan adanya market maker karena market maker tidak hanya membantu likuiditas tetapi juga membantu proses price discovery dari suatu obligasi. Semakin baik proses price discovery maka semakin tipis spread yang terjadi.
Namun price discovery ini bukan sesuatu yang otomatis tercipta dengan adanya market maker. Ketersediaan market maker baru satu langkah. Market maker juga pelaku pasar yang tentunya ingin untung. Suatu hal yang wajar. Market maker bukan malaikat penolong yang menghilangkan resiko pasar. Oleh karena itu, ada langkah lain yang diperlukan untuk membantu pemodal ritel. Perlu dibuka akses seluas-luasnya terhadap informasi harga bagi pemodal ritel. Ini menjadi faktor penting dalam memberdayakan pemodal ritel. Bursa Efek Surabaya (BES) mengatakan akan melakukan hal ini. Kita belum tahu seberapa efektifnya informasi harga dari BES ini dalam membantu pemodal ritel. Ini masih akan diuji dalam praktiknya nanti. Namun mengingat karakteristik pasar obligasi di mana transaksi terjadi melalui jaringan telepon antar-dealer atau broker (over-the-counter), akses terhadap harga obligasi dengan sendirinya menjadi agak terbatas. Artinya, keterbatasan akses informasi ini merupakan konsekuensi dari karakteristik pasar obligasi itu sendiri. Ini bisa dikurangi tetapi tidak bisa dihilangkan sama sekali. Hal ini perlu dipahami oleh para pemodal ritel. Ada resiko bahwa pemodal ritel tidak memperoleh harga terbaik yang mungkin bisa dia peroleh.
Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, kita melihat bahwa tampaknya lebih aman bagi pemodal ritel yang membeli ORI untuk menyimpan ORI sampai jatuh tempo. Pemodal yang berniat menjual dalam waktu kurang dari tiga tahun perlu mempertimbangkan apakah perbedaan imbal hasil sebesar 0,28% per tahun cukup memadai untuk mengompensasi resiko-resiko seperti yang diuraikan di atas. Perbedaan 0,28% per tahun tersebut menurut saya pribadi agak “tanggung”. Tetapi ini memang pendapat yang bersifat subyektif. Bagi beberapa orang mungkin dibutuhkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengalihkan simpanan mereka dalam bentuk deposito satu bulan yang dananya bisa ditarik kapan saja (dalam waktu satu bulan), dengan “harga” yang pasti dan juga dijamin pemerintah ke bentuk investasi lainnya. Bagi beberapa orang lainnya, 0,28% mungkin sudah cukup.
Kembali pada ORI, kecuali anda adalah pemodal ritel yang mempunyai horison investasi tiga tahun dan/atau anda yakin suku bunga akan turun (sesuai dengan horison investasi anda) sebaiknya anda berpikir kembali sebelum membeli ORI. Sebaliknya, jika anda memang sudah siap dengan segala kemungkinan tersebut di atas, ini merupakan kesempatan untuk mencicipi bentuk investasi lain. Semua terpulang pada masing-masing pemodal. Tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti pemodal ritel untuk berinvestasi di ORI tetapi mengajak pemodal ritel untuk mengenal resiko lebih mendalam sehingga menjadi lebih siap dalam berinvestasi.**
Reslian Pardede, Pengamat Pasar Modal & Peneliti di The Institute for Ecosoc Rights
ORI Seri 5
Aug 22nd
Dalam artikel seri Edison’s Week in Review minggu lalu, saya telah menyinggung tentang peluncuran ORI seri 5 di akhir bulan ini. Ketika artikel itu ditulis, belum ada pengumuman berapa besarnya kupon ORI seri 5 tersebut. Perkiraan saya sendiri adalah sebesar 10,45-11%, dan saya menyarankan bahwa jika ternyata kuponnya dibawah angka tersebut, maka ada baiknya para pembaca blog mempertimbangkan untuk tidak membelinya di penawaran perdana, karena kemungkinan nasibnya bisa seperti ORI seri 4 yang harganya jatuh di pasar sekunder.
Tadi sore saya membaca artikel di detikfinance.com bahwa Dirjen Pengelolaan Utang telah memberikan keterangan resmi mengenai ORI seri 5 tersebut. Kupon untuk ORI seri 5 ini adalah sebesar 11,45%. Artikel di detikfinance.com tersebut menuliskan bahwa kupon tersebut adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan ORI seri sebelumnya, tetapi ini tidak benar karena ORI seri 1 memberikan kupon sebesar 12,05% (bukan 10,25% seperti yg ditulis dalam artikel tersebut).
Pemberian kupon sebesar 11,45% utk ORI seri 5 ini sendiri cukup mencengangkan saya. Mengapa? Ini karena saya sempat ‘melirik’ hasil pelelangan Surat Utang Negara (SUN) hari Selasa lalu (12 Agustus) dimana salah satu Obligasi yang dilelang adalah SUN seri FR0026 yang akan mature/jatuh tempo Oktober 2014. Pada pelelangan itu, Yield/hasil yang didapat oleh investor institusional utk obligasi tersebut hanya sebesar 11,51132%.
Bagi yang belum mengetahui apa itu SUN, kita bisa mengibaratkan SUN sebagai obligasi negara utk ‘partai besar’, sedangkan ORI sebaliknya adalah obligasi negara ‘eceran’. Sebagai ilustrasi, utk investasi di ORI, kita hanya membutuhkan Rp 5 juta, sedangkan untuk investasi langsung di SUN (mengikuti pelelangan lewat bank/institusi peserta lelang) dibutuhkan modal sebesar Rp 5 Milyar. Ada juga beberapa bank yang menawarkan investasi di SUN (tanpa mengikuti pelelangan), tetapi biasanya yield/hasilnya sedikit dibawah yield hasil pelelangan, dan nominal yang dibutuhkan pun tetap besar, sekitar Rp 500 juta.
Karena nilai nominalnya yang besar itu, biasanya SUN memperoleh bunga yang lebih tinggi di atas ORI (tidak berbeda dengan deposito, semakin besar nilai deposito, semakin besar bunga yang kita terima). Oleh karena itu, sesungguhnya cukup mengagetkan bahwa pemerintah menawarkan kupon ORI seri 5 sebesar 11,45% (hanya selisih sedikit dengan Yield SUN FR0026), terlebih lagi mengingat jatuh temponya lebih singkat (ORI seri 5 jatuh tempo 2013, dan SUN FR0026 jatuh tempo 2014).
Dilihat dari apa yang saya tulis di atas, investasi di ORI seri 5 ini bisa dianggap cukup atraktif. Mungkin pemerintah sengaja memberikan kupon yg cukup besar agar nasib ORI seri 5 ini tidak sama dengan ORI seri 4 yang harganya jatuh di pasar sekunder tidak lama setelah diterbitkan.
—–oOo—–
Dalam artikel ini, saya pikir ada baiknya juga saya memberikan beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan para investor yang tertarik untuk investasi di ORI.
Pertama-tama, ORI sebagai obligasi terbitan negara, boleh dikatakan mempunyai resiko yang sangat-sangat kecil. Jika pemerintah kesulitan dana untuk membayar bunga maupun pokok obligasi, secara teori pemerintah bisa tinggal menaikkan pajak untuk melunasi obligasi tersebut. Oleh karena itu, para investor ORI tidak perlu khawatir mengenai resiko ‘gagal-bayar’.
Kedua, ORI ini bisa dilihat sebagai alternatif ‘deposito’ bagi para investor dengan dana di atas Rp 100 juta. Seperti kita tahu, program penjaminan simpanan yang diadakan pemerintah hanya menjamin tabungan dan simpanan sampai dengan nilai Rp 100 juta. Oleh karena itu, orang-orang yang mempunyai deposito di atas Rp 100 juta yang ditaruh utk jangka panjang, mungkin ada baiknya mempertimbangkan menaruh sebagian dana tersebut di ORI seri 5. Dengan demikian nilai depositonya berkurang menjadi dibawah Rp 100 juta sehingga tetap dijamin oleh LPS (selama bunganya tidak di atas bunga wajar) dan investor tersebut juga bisa menikmati bunga di ORI yang lebih tinggi dari deposito pada umumnya.
Ketiga, jika di kemudian hari tingkat suku bunga di Indonesia turun, para investor ORI akan bisa menikmati Capital Gain/kenaikan harga ORI. Kalau itu terjadi, jika diinginkan, para investor ORI bisa menjual ORI-nya dan menikmati keuntungan dari kenaikan harga tersebut.
—–oOo—–
Meskipun di atas saya menulis bahwa penawaran ORI seri 5 ini cukup menarik, perlu diingat ORI adalah obligasi dan investor yang ingin berinvestasi dalam ORI harus memahami segala resiko yang terkait dengan obligasi. Bagi para pembaca blog yang terlalu belum mengerti tentang obligasi, bisa membaca 2 artikel lama saya mengenai obligasi yaitu Bond….James Bond serta Obligasi, Suku bunga dan Credit Rating.
Dalam kedua artikel tersebut saya telah menjelaskan mengenai resiko investasi obligasi secara umum yaitu resiko suku bunga dan resiko credit rating. Selain kedua resiko itu, para investor ORI harus juga mengetahui resiko yang dialami oleh setiap obligasi yang memberikan bunga yang besarnya tetap (fixed), yaitu resiko inflasi. Jika antara saat ini dan waktu ORI seri 5 itu jatuh tempo (2013) inflasi per tahun di atas 11,45%, maka bunga yang diterima oleh para Investor itu tidak akan cukup utk ‘mengejar’ inflasi.
Sumber : http://janganserakah.com/2008/08/14/ori-seri-5/
ORI4
Aug 22nd
Beberapa waktu yang lalu seorang sales dari dari sebuah perusahaan manager investasi mengirimkan sebuah email kepada saya. Dia memberikan brosur penawaran untuk berinvestasi di ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dengan masa penawaran emisi adalah 25 Februari hingga 13 Maret 2008. Sebuah tawaran menarik menurut saya sebagai bahan pilihan dalam diversifikasi aset kita. Namun sayang, keterbatasan dana menjadi kendala utama untuk mengisi keranjang yang satu ini karena minimal pembeliannya adalah 5 juta, terasa cukup memberatkan. Mungkin nextnya dapat saya coba di pasar sekunder atau menunggu ORI 005, berharap hehehhe…
ORI atau singkatan dari Obligasi Ritel Indonesia diluncurkan dengan tujuan untuk menjadi sumber dana alternatif baru yang akan digunakan untuk membiayai berbagai anggaran belanja negara. Beberapa ORI sebelumnya sudah dikeluarkan pemerintah dengan target kupon atau bunga diatas 10%, namun untuk ORI 004 ini “hanya” diganjar bunga 9.5% gros (harus dikurangi pajak 20%). Meskipun bunga yang ditawarkan cukup rendah namun saya rasa antusiasme masyarakat membeli ORI 004 masih cukup tinggi karena kita lihat pasar saham saat ini terlalu bergejolak sehingga investor masih wait n see dulu dan kemungkinan beralih ke ORI dari pada harus ke deposito yang menawarkan bunga lebih rendah (+/- 6%)
Semua investasi pasti ada resiko, namun saya melihat resiko investasi di ORI tidak terlalu besar dan dapat diterima oleh investor bertipikal konservatif. Berikut resiko-resiko berinvestasi di ORI :
1. Resiko Kredit, yaitu resiko tidak dibayarnya bunga atau pokok pada saat jatuh tempo. Namun ORI adalah investasi yang bebas terhadap resiko gagal bayar karena dijamin pemerintah.
2. Resiko Harga. Dalam transaksi di pasar sekunder, dimungkinkan adanya resiko pasar, akibat harga jual lebih rendah dibandingkan harga beli (capital loss). ORI tidak memiliki resiko ini, apabila tidak dicairkan sampai dengan jatuh tempo.
3. Resiko Likuiditas, yaitu resiko tidak dapat mencairkan investasi ORI saat memerlukan dana. Namun semua agen penjual ORI berkomitmen sebagai “standby buyer” yang akan membeli ORI dari nasabah.
Selain ada kekurangan tentu ada kelebihan dari ORI ini, antara lain :
1. Aman, Pembayaran pokok dan bunga sampai dengan jatuh tempo dijamin oleh Undang-undang (namun perlu diingat penegakan undang-undang di negara kita masih relatif rendah, jadi hati-hati)
2. Imbal hasil menarik, Bunga atau kupon ORI di atas bunga deposito dari bank.
3. Peluang Capital Gain. ORI berpotensi memberikan “Capital Gain” apabila tingkat suku bunga turun.
4. Dapat dijadikan jaminan.ORI dapat dijadikan jaminan pinjaman untuk investasi di beberapa agen penjual (manager investasi).
Ilustrasi Investasi di ORI.
Investor A membeli ORI di pasar perdana sebesar 100 juta dengan bunga 9% dan tidak dijual sampai jatuh tempo. Hasil investasi yang diperoleh adalah :
Bunga per bulan sampai jatuh tempo
= 9% x 100 juta x (1/12)
= 750 ribu atau sekita 600.000 (setelah pajak)
Pokok saat jatuh tempo adalah = 100 juta
Investor B membeli ORI di pasar perdana sebesar 100 juta dengan dengan bunga 9% dan dijual di pasar sekunder dengan kenaikan 5%, maka hasil yang diperoleh adalah :
Bunga per bulan sampai saat ORI dijual
= 9% x 100 juta x (1/12)
= 750 ribu atau sekita 600.000 (setelah pajak)
Capital Gain = 100 juta x 5%
= 5 juta atau 4 juta (setelah pajak)
Dana yang diterima saat dijual
= Jumlah Pokok ORI + Capital Gain
= 100 juta + 4 juta = 104 juta (setelah pajak)
Investor B membeli ORI di pasar perdana sebesar 100 juta dengan dengan bunga 9% dan dijual di pasar sekunder dengan penurunan 2%, maka hasil yang diperoleh adalah :
Asumsi bahwa ORI disimpan selama 1 bulan
Capital Loss = 100 juta x 2% = -2 juta
Bunga selama 1 bulan = 750 ribu
Capital Loss ditambah bunga ORI
= -2 juta + 750 ribu = -1.25 juta (tidak dipotong pajak karena kurang dari 0)
Dana yang diterima saat dijual
= 100 juta + (-1.25 juta) = 98.75 juta
Selamat berinvestasi…!!!
*Tulisan disadur dari brosur Danareksa untuk penawaran ORI 004 dan asumsi penulis
Sumber : http://wnesia.wordpress.com/2008/02/26/ori-004/
Tips Berinvestasi ORI
Aug 22nd
Tips Berinvestasi ORI
Nurul Qomariyah – detikFinance
Jakarta – Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI) seri 004 akan mulai ‘menyapa’ para investor. Penawaran akan dimulai pada 25 Februari hingga 6 Maret mendatang. Sementara penjatahan akan dilakukan pada 10 Maret 2006.
Apa dan bagaimana investasi ORI004 ini? Simak tips-tips dari detikFinance berikut ini:
Apa sebenarnya ORI? ORI adalah obligasi negara yang dijual kepada individu atau perseorangan WNI melalui agen penjual di pasar perdana.
Jika Anda ingin memesan ORI004, pastikan Anda memiliki uang minimal Rp 5 juta. Pemerintah telah menetapkan pemesanan minimum ORI004 Rp 5 juta dan maksimum Rp 3 miliar.
Tingkat kupon yang diberikan ORI004 ini mencapai 9,5%, atau rata-rata diatas suku bunga deposito yang berkisar antara 6-8%. Kupon ORI004 akan dibayarkan setiap bulan pada tanggal 12. Tingkat kupon yang lebih tinggi inilah menjadi salah satu daya tari ORI.
Kupon dan pokok ORI akan ditransfer ke rekening dana tunai yang dimiliki investor.
Bagaimana cara memesannya?
1. Anda tinggal menghubungi 18 bank dan lembaga keuangan yang telah ditunjuk pemerintah sebagai agen penjual.
2, Membuka rekening dana pada salah satu bank umum dan rekening surat berharga pada salah satu subregistry dan atau partisipan/nasabah subregistry
3. Menyediakan dana sesuai dengan pesanan
4. Mengisi formulis pemesanan
5. Menyampaikan formulis pemesanan, fotocopi KTP dan bukti setor kepada agen penjual.
ORI004 akan mulai dicatatkan di bursa pada 13 Maret 2008, sehingga akan jatuh tempo pada 12 Maret 2012.
Apa saja keuntungan ORI selain kupon yang lebih besar?
* Kupon dan pokok dijamin oleh UU
* Dapat dijaminkan atau digadaikan
* Dapat diperdagangkan di pasar sekunder
* Tersedia kuotasi harga beli dari agen penjual.
Meski berinvestasi di sektor keuangan memiliki risiko, namun ORI bisa terbebas dari risiko tersebut. Beberapa risiko yang akan dihadapi jika berinvestasi di sektor keuangan adalah:
1. Risiko gagal bayar, dimana investor bisa saja tidak memperoleh pembayaran dana yang dijanjikan oleh penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo.
Namun seperti dikutip dari situs Depkeu, investasi ORI terbebas dari risiko gagal bayar sebab pemerintah berdasarkan UU SUN dan UU APBN setiap tahun menjamin pembayaran kupon dan pokok SUN, termasuk ORI sampai dengan jatuh temponya.
2. Risiko pasar, yakni potensi kerugian investor karena kecenderungan penurunan harga ORI di pasar sekunder akibat kenaikan tingkat bunga. Kerugian dapat terjadi apabilainvestor menjual ORI di pasar sekunder sebelum jatuh tempo pada harga jual yang lebih rendah dari harga beli.
Risiko pasar dalam investasi ORI dapat dihindari apabila pembeli ORI di pasar perdana tidak menjual ORI sampai dengan jatuh tempo dan hanya menjual ORI jika harga jual lebih tinggi dari harga beli setelah dikurangi biaya transaksi.
3. Risiko Likuditas, yakni potensi kerugian bila sebelum jatuh tempo pemilik ORI yang pelu dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual ORI di apsar sekunder pada tingkar harga pasar yang wajar.
Namun bila pemilik ORI butuh dana, ORI dapat dijadikan sebagai jaminan dalam pengajuan pinjaman ke bank atau sebagai jaminan dalam transaksi efek di pasar modal.
Apa yang harus dilakukan jika terjadi gejolak pasar? Jangan panik dan tetap pegang ORI hingga jatuh tempo. Pemerintah akan tetap membayar kupon pada saat jatuh tempo, demikian pula pokoknya.
Bagaimana jika ingin menjual ORI sebelum jatuh tempo?
Jual lah ORI pada saat harga pasar ORI lebih tinggi dari harga pembelian.Selamat berinvestasi ORI… (qom/ir)
Sumber : http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/25/time/092215/idnews/899246/idkanal/5

Recent Comments