Category — Investasi
5 Investasi Masa Depan
5 Investasi Masa Depan
Investasi adalah cara pengembalian jangka panjang yang mungkin saja memerlukan sebuah kalimat ” Bayar sekarang, main belakangan”. berikut 5 Investasi utama yang bisa ditempatkan dalam masa depan:
1. Investasi dengan mereka - mereka yang anda kasihi
Suatu bahasan simple: Kejadian - kejadian di luar pekerjaan seringkali berimbas langsung ke dalam pekerjaan anda. Jika banyak hal yang tak beres di luar pekerjaan anda, ujung-ujungnya pekerjaan anda pun akan terganggu.
[Read more →]
Related posts
January 8, 2009 No Comments
Suku Bunga Deposito Turun Terus, ke Mana Duit Ditanam?
SEORANG pekerja sebuah perusahaan yang cukup bagus lima tahun silam mendapat tawaran pensiun dini dengan uang pesangon Rp 300 juta. Ia cukup bingung. Seorang temannya menasihati agar tawaran itu diambil dan uang pensiun didepositokan saja. Soalnya, kecenderungan suku bunga deposito waktu itu naik terus. Benar saja, ia sempat menikmati suku bunga depositonya pada tingkat 64 persen setahun. Kini dengan uang telah beranak-pinak sampai bercucu itu, tenanglah hidupnya dari sisi finansial.
AKAN tetapi, itu lima tahun silam. Sekarang, suku bunga deposito semakin hari semakin turun. Kini tinggal 6 persen per tahun untuk deposito berjangka satu bulan. Dipotong inflasi saat ini yang 4,8 persen, tinggal 1,2 persen. Masih dipotong lagi dengan pajak pendapatan bunga deposito yang 15 persen dari 6 persen, yaitu 0,9 persen. Tinggallah tersisa 0,3 persen saja. Situasi telah berubah. Hasil tanam uang di deposito memang semakin menipis saja. Sementara itu, pemerintah juga telah bersiap-siap mencabut jaminan melekat kepada perbankan secara bertahap. Jadi, ke mana kita sebaiknya menanam uang?
Turunnya suku bunga deposito itu tak lepas dari semakin turunnya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank-bank yang memiliki kelebihan dana, yang tidak dapat disalurkan sebagai kredit, biasanya menempatkan dana tersebut pada instrumen SBI. Tentu saja mendapatkan bunga dari BI. Bank kemudian mengambil untung dari selisih bunga SBI yang diperoleh dan bunga deposito yang diberikan kepada nasabah.
Nah, kalau suku bunga SBI terus turun, tentu saja bank-bank memberikan bunga yang lebih rendah dari suku bunga SBI tersebut kepada nasabah yang menyimpan dananya di deposito. Kalau tidak, banknya menjadi rugi.
Mengapa BI menurunkan suku bunga? Alasannya, antara lain, supaya bank-bank lebih banyak menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat kepada dunia usaha. Tentu saja dengan suku bunga yang rendah juga lebih memberi peluang dunia usaha untuk mengembangkan investasi. Dengan demikian, dunia usaha bisa bergerak, antara lain karena sudah bisa menanggung beban bunga kredit yang lebih ringan.
Akan tetapi, kemudian muncul pertanyaan bagi mereka yang memiliki kelebihan dana-yang selama ini hanya disimpan di bank sebagai tabungan atau deposito-tetapi tidak memiliki usaha atau memang tidak berbakat berbisnis langsung, ke mana uang itu ditanamkan supaya menghasilkan investasi yang optimal? Banyak alternatif, selain deposito yang semakin tidak dapat diandalkan itu.
Acapkali kita tergiur mendengar cerita investasi di saham yang dapat memberikan imbal hasil cukup memuaskan. Misalnya, orang yang membeli saham Bank Mandiri pada saat bank itu melakukan penawaran perdana kepada publik seharga Rp 675 per lembar pada Juli 2003. Berdasarkan harga penutupan perdagangan saham di BEJ, saham Bank Mandiri bernilai Rp 1.500 per lembar. Artinya, hanya dalam tujuh bulan investasi, saham Bank Mandiri telah meningkat sebanyak Rp 825 per lembar.
Itulah potensi keuntungan orang yang ikut membeli saham Bank Mandiri dulu, kalau melepas sahamnya sekarang. Luar biasa! Enam bulan saja, investasi itu memberikan keuntungan 122 persen. Bandingkan dengan deposito yang ketika Juli 2003 suku bunganya cuma sekitar 12 persen. Itu pun dana kita harus dibiarkan mengendap selama setahun.
Memang lezat hasil investasi saham itu. Akan tetapi, jangan lupa, sebelum kita memutuskan berinvestasi di saham, kita sama sekali tidak punya gambaran jelas, berapa besar imbal hasil investasi yang kita peroleh kelak. Artinya, ada risiko besar yang menganga, yang memungkinkan kita juga bisa terjerembab ke lembah kerugian. Kalau harga saham ternyata turun, tentu bukannya untung, malah buntung. Beda dengan deposito, yang sejak awal sebelum memutuskan memilih jangka waktunya kita sudah tahu berapa imbal hasil investasi yang bakal kita terima. Di samping itu, menaruh uang di bank juga masih dijamin pemerintah. Super aman.
Ada jargon investasi yang menyatakan, high return high risk. Begitulah investasi saham. Peluang keuntungannya tinggi, peluang risikonya juga selangit. Kalau Anda lemah jantung, tidak kuat menanggung risiko yang begitu besar, lebih baik tidak masuk “bersolo karier” menanamkan duit Anda ke saham.
Okelah Anda mungkin termasuk tipe orang yang suka, atau setidaknya dapat menanggung risiko di atas rata-rata. Meskipun demikian, kalau Anda tidak punya cukup waktu untuk memerhatikan perkembangan perusahaan, mencermati pergerakan harga saham setiap saat, Anda bisa-bisa bagai orang kecopetan. Ketika hendak melikuidasi investasi, bagai mimpi di siang bolong Anda menemukan harga saham itu jatuh, jauh di bawah harga pada saat Anda membeli saham itu.
Jadi, bagaimana? Ada pilihan investasi lain yang relatif lebih aman, yakni membeli obligasi alias surat utang. Kenapa lebih aman? Sebab, saham adalah bukti kepemilikan. Ketika kita memiliki saham satu perusahaan, berarti kita menjadi salah satu pemilik perusahaan itu. Pemilik perusahaan atau pemegang saham berhak atas keuntungan perusahaan berupa dividen, tetapi dia juga bertanggung jawab terhadap kewajiban dan permasalahan perusahaan.
Oleh karena itu, jika misalnya saja suatu ketika perusahaan itu ambruk dan harus dibubarkan, seluruh aset kekayaan perusahaan pada kesempatan pertama harus digunakan untuk melunasi kewajiban yang antara lain kepada pemegang obligasi. Kalau ada sisa, baru dibagi kepada pemegang saham.
Di samping itu, investasi di saham tingkat pengembalian yang akan diperoleh, baik dari peningkatan nilai saham maupun dari pembagian dividen, tidak bisa dipastikan. Tergantung kinerja perusahaan. Adapun investasi di obligasi memberikan kepastian berapa dana yang akan diterima saat jatuh tempo nantinya dan berapa suku bunga yang akan diterima setiap periode pembayaran kupon bunga. Semuanya sudah ditetapkan dalam prospektus. Makanya, tanam uang di obligasi ini disebut juga investasi pendapatan tetap. Jadi, investasi di obligasi relatif lebih aman.
Kenapa relatif?
Karena masih ada kemungkinan terjadi gagal bayar alias perusahaan penerbit obligasi mangkir bayar bunga ataupun bayar utang pokok ketika jatuh tempo. Gagal bayar itu bisa terjadi, misalnya, kalau perusahaan penerbit obligasi mengalami krisis keuangan dan rugi besar. Atau bisa juga pemilik perusahaan itu nakal, dengan berbagai cara sengaja ngemplang, tidak bayar utang.
Dari sudut penerbitnya, obligasi itu sendiri dapat kita pilah menjadi dua jenis, yaitu obligasi pemerintah dan obligasi perusahaan (korporasi). Saat ini hasil serahan atau imbal hasil (yield) obligasi pemerintah sebesar 12,5 persen untuk obligasi yang jangka waktunya sembilan tahun. Adapun obligasi korporasi sedikit di atas obligasi pemerintah, yakni sekitar 13,5 persen.
Obligasi korporasi menawarkan hasil yang lebih tinggi daripada obligasi pemerintah karena obligasi pemerintah dijamin oleh kedaulatan negara. Artinya, selama negara yang menerbitkan obligasi itu masih ada, obligasi itu akan dibayar. Sekalipun sifatnya tidak seperti jaminan pada perbankan, tetapi obligasi negara ini jelas lebih aman daripada investasi di obligasi korporasi, apalagi di saham. Kembali lagi ke jargon high return high risk, obligasi korporasi menawarkan keuntungan yang lebih besar daripada obligasi pemerintah.
Jadi, kita pilih investasi di obligasi dong? Tunggu dulu. Lihat dulu, berapa duit yang kita punya. Dana yang dibutuhkan untuk investasi di obligasi ini haruslah besar. Minimal dalam kelipatan Rp 1 miliar. Jelas ini bukan pilihan yang mungkin bagi mereka yang memiliki dana ratusan juta rupiah, apalagi beberapa juta rupiah saja. Kecuali, kalau Bursa Efek Surabaya sudah meluncurkan produk obligasi untuk ritel, baru dengan modal puluhan juta rupiah kita bisa masuk.
Masalah serupa dihadapi kalau ingin investasi di SBI yang suku bunganya masih di atas deposito. Seperti halnya obligasi, dana investasi untuk SBI perlu besar karena lelang SBI bukan lelang ritel seratus atau dua ratus juta rupiah.
Investasi valuta
Bagi yang memiliki dana investasi terbatas masih ada peluang lain di luar saham, yaitu instrumen investasi valuta asing (valas). Menanamkan duit rupiah ke dalam instrumen valas tampaknya masih memberikan peluang. Misalnya, ke dalam euro. Alasannya, nilai tukar euro terus menguat terhadap dollar AS. Cuma pertanyaannya, seberapa lama penguatan euro akan terus berlanjut. Jangan sampai setelah kita merelokasi investasi ke euro, justru dollar AS berbalik menguat.
Investasi ke dollar AS? Sebelum menanam duit ke dollar AS dalam jumlah besar, mungkin perlu berpikir sejenak. Soalnya, harga dollar AS saat ini di kisaran Rp 8.400-an. Bank Indonesia memperkirakan kurs dollar AS tahun ini bergerak dari Rp 8.200 sampai Rp 8.700.
Beberapa analis memperkirakan rupiah memang akan terus menguat. Apalagi Bank Indonesia telah menyiapkan peluru untuk bertarung di pasar valuta jika rupiah mendapat gangguan. BI telah menjalin kerja sama dengan sejumlah bank sentral lainnya di kawasan Asia untuk keperluan “pinjam-meminjam uang”. Akan tetapi, menjelang pemilu, tensi politik akan meningkat. Panasnya bisa merembes ke pasar valuta. Spekulan cukup rajin menspekulasi rupiah sehingga bukan tidak mungkin rupiah bisa merosot. Perdagangan valas jauh lebih mudah bergejolak dan relatif lebih sulit diprediksi daripada saham. Di saham ada kinerja, ada laporan keuangan rutin, sehingga paling tidak pemegang saham bisa memperkirakan nilai saham berdasarkan kinerja perusahaan. Akan tetapi, pemicu naik turunnya nilai mata uang jauh lebih abstrak dan sangat sensitif.
Emas bagaimana? Tampaknya, kalau sekarang baru mau masuk ke “tambang” emas, harganya sudah telanjur tinggi akibat semakin terpuruknya dollar AS di pasar internasional, terutama terhadap euro dan yen. Apalagi, kalau cuma menanamkan duit dengan membeli emas perhiasan, bisa-bisa malah merugi. Pasalnya, jika emas perhiasan tersebut akan dilepas, pedagang emas biasanya akan memotong ongkos kerja yang cukup besar. Sekalipun emas perhiasan itu baru setahun dibeli dan kondisinya masih mulus.
Jadi, bagi pemilik dana yang tak punya waktu untuk mengamati pergerakan saham setiap saat, sebaiknya memang tidak terjun langsung. Ada pilihan investasi yang menarik, yakni reksa dana. Instrumen investasi ini bisa mewakili keinginan kita tanpa ikut bermain langsung. Kita tinggal memilih jenis reksa dana yang mewakili jenis investasi yang kita maui. Ada reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap (obligasi), reksa dana pasar uang, dan reksa dana campuran. Bagi yang dananya terbatas, reksa dana ini juga memberi peluang untuk investasi karena kita bisa membeli setiap unit dengan murah. Ada yang harga pembelian awal unit penyertaan hanya Rp 250.000, sedangkan pembelian selanjutnya bisa Rp 100.000.
Untuk mengetahui nilai unit penyertaan pada reksa dana tersebut kita memantau setiap hari di surat kabar yang menyediakan informasi reksa dana.
Pertanyaannya, bagaimana memilih pengelola reksa dana atau biasa disebut manajer investasi? Saat ini terdapat 182 jenis reksa dana yang dikelola oleh 98 manajer investasi.
Hal pertama yang harus kita cari tahu adalah track record suatu manajer investasi. Bagaimana perusahaan tersebut, siapa sponsornya, bagaimana perkembangan imbal hasil yang dapat diberikan kepada nasabahnya. Patut dicatat, investasi reksa dana tidak dijamin pemerintah sebagaimana deposito pada bank.
Jangan percaya kalau ada manajer investasi yang menjanjikan tingkat imbal hasil. Badan Pengawas Pasar Modal jelas-jelas melarang manajer investasi menjanjikan tingkat imbal hasil tertentu. Sebab, nilai investasi pada reksa dana, yang dicerminkan dalam nilai aktiva bersih per unit, bisa juga berfluktuasi meski tidak terlampau tajam.
Yang bisa kita raba hanyalah catatan imbal hasil yang pernah diberikan kepada nasabahnya dalam beberapa tahun terakhir. Itu pun tidak otomatis mencerminkan imbal hasil yang akan diperoleh di masa mendatang. Sebab, nilai aktiva bersih itu juga akan didasarkan pada harga pasar dari instrumen yang dimiliki reksa dana tersebut.
Nasihat yang paling bijak adalah tentukan keperluan investasi Anda, sesuaikan dengan jenis instrumen investasi yang akan dipilih, dan ukurlah risiko yang dapat Anda tanggung. Jika investasi untuk jangka menengah apalagi jangka pendek janganlah berinvestasi pada instrumen jangka panjang. Sebaliknya, jika keperluan investasi Anda untuk jangka panjang, janganlah semuanya ditaruh di instrumen jangka pendek. Intinya, harus klop antara kebutuhan investasi dan instrumen investasi yang dipilih.
Ada lagi, prinsip investasi yang mengatakan, janganlah menyimpan semua telur pada satu keranjang. Karena jika keranjang Anda itu bermasalah, jatuh misalnya, maka semua telur Anda akan berantakan. Lain halnya jika telur-telur itu Anda tempatkan di beberapa keranjang berbeda, maka ketika salah satu keranjang mengalami masalah, masih ada telur yang utuh pada keranjang yang lain.
Seperti memperlakukan telur itu, begitu pula prinsip itu mengajarkan bagaimana memperlakukan dana investasi yang dimiliki. Kalau Anda punya sejumlah dana, akan baik kalau Anda investasikan di berbagai instrumen yang berbeda-beda. Kalaupun dana terbatas dan hanya bisa taruh di satu instrumen tertentu, misalnya saham, maka sebaiknya diinvestasikan dalam berbagai saham yang berbeda. Bukan hanya pada emiten yang berbeda, tetapi pada berbagai sektor industri yang berbeda. Begitu juga halnya kalau Anda punya dana besar dan memilih menanamkan uang di obligasi, maka komposisi investasi yang bagus akan lebih aman, sekaligus memberi potensi keuntungan yang baik. (Ardhian Novianto/Andi Suruji)
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0402/26/Perbankan/878800.htm
Related posts
September 3, 2008 No Comments
ORI seri 005: Edison Pergi Ke Pasar!!!
Ketika saya kecil, salah satu tontonan yang paling saya suka adalah pertunjukan topeng monyet. Meskipun setelah dewasa saya merasa kasihan dengan monyetnya yg kerap diperlakukan kurang manusiawi (atau kera-wi?), tidak bisa dipungkiri tontonan itu sangat menarik bagi anak-anak.
Bagi saya sendiri, salah satu aksi yang selalu saya ingat dari pertunjukan topeng monyet adalah ketika monyet itu bergaya seakan ingin berbelanja ke pasar. Dengan memegang sebuah payung dan keranjang kecil, sang monyet berjalan bolak-balik sambil diiringi dengan suara gendang dan teriakan si pawang monyet : “Sarimin pergi ke pasar!!!” (entah mengapa, dulu banyak monyet yg oleh pawangnya dinamai Sarimin)
Hari ini, saya meluangkan waktu utk melakukan riset ke pasar sebelum melakukan investasi di ORI sehubungan dengan launching ORI seri 005. Tentuya tanpa membawa payung dan keranjang kecil, dan juga tanpa diiringi gendang serta teriakan: “Edison pergi ke pasar!!!“.
Lalu bagaimana hasil jalan-jalan saya ke ‘pasar’?
—–oOo—–
Utk ‘penyelidikan saya’, yang saya fokuskan adalah mengenai biaya utk transaksi di pasar sekunder. Mengapa? Karena boleh dibilang rata-rata setiap agen penjual mempunyai ketentuan yang sama utk hal ‘penawaran perdana ORI seri 005?. Yang berbeda adalah justru ketentuan biaya untuk transaksi di pasar sekunder.
Yang pertama-tama saya hubungi adalah teman saya yang mempunyai posisi cukup tinggi di suatu bank. Ketika saya invest di ORI 001, saya melakukannya melalui bantuan dia. Informasi dari teman tersebut, utk pasar sekunder, biaya transaksi jual/beli adalah 0,05% dari nilai transaksi dengan ketentuan minimum fee nya 50 ribu dan maks 150 ribu. Selain itu, mereka juga mengenakan biaya custodian sebesar 0,05% per tahun.
Karena kebiasaan saya dalam melakukan investasi adalah selalu melakukan perbandingan, maka saya pun mencoba menghubungi agen penjual yang lainnya.
Di sebuah bank lain yang saya hubungi per telpon, Customer Servicenya mengatakan bahwa utk transaksi jual/beli dikenakan Rp 25 ribu, tetapi mereka tidak mengenakan biaya penitipan/custodian.
‘eh, lebih murah… menarik juga‘ pikir saya.
Setelah itu, saya dan seorang teman saya pun berangkat ke sebuah sekuritas yg juga merupakan agen penjual ORI. Customer Service yang melayani kami menginformasikan bahwa di tempat mereka, untuk transaksi beli tidak dikenakan biaya, sedangkan untuk transaksi jual dikenakan biaya Rp 11 ribu. Mereka juga tidak mengenakan biaya custodian.
‘Wah!! ini malah lebih bagus lagi‘ saya pun mulai kegirangan.
Tiba-tiba Customer service tersebut (setelah pergi sebentar dan kembali lagi melayani kami) mengatakan, ‘Eh salah pak! Ternyata utk jual juga tidak dikenakan biaya!‘
*TUIT* *TUIT* *TUIT* Alarm langsung berbunyi di dalam kepala saya.
Ini pasti ada yang nggak benar. Tidak mengenakan biaya jual/beli, tidak mengenakan biaya custodian, lalu apakah perusahaan sekuritas ini kerja bakti? Saya langsung mengenakan ‘topi investor’ saya dan mencoba menyelidiki lebih jauh.
‘Maaf mbak, kalau hari ini saya jual ORI 004 di sekuritas ini, dihargai berapa ya?’
‘Oh, kebetulan saya baru beli dari orang di harga 92,5.’
Langsung saya angkat HP saya dan menelpon teman saya di bank dan menanyakan harga jual & beli ORI 4 mereka utk hari itu. Ternyata bank teman saya membeli ORI 4 di harga 93,45. Dengan demikian berarti bank teman saya itu membeli dengan harga lebih tinggi sekitar 1,03%.
Ooooh, rupanya di sini permainannya. Customer service tersebut lalu mengakui bahwa di tempat mereka, memang spread/selisih antara harga jual dan harga beli cukup besar dibandingkan dengan tempat lain. Dengan demikian, sebenarnya mereka bukannya tidak mengenakan biaya transaksi jual/beli dan biaya custodian, melainkan biaya-biaya tersebut sudah disamarkan dengan bentuk spread/selisih harga jual-beli yang lebih besar itu (Ketika kita membeli dari mereka, harganya lebih mahal. dibandingkan tempat lain. Ketika menjual kepada mereka, harganya lebih murah dibandingkan tempat lain).
—–oOo—–
Apa 2 pelajaran yang bisa dipetik dari cerita saya hari ini?
Yang pertama, selalu teliti berbagai biaya yang akan kita bayar sebagai investor, baik biaya yang terlihat maupun yang ‘tidak terlihat’ spt yang saya ceritakan di atas. Teliti sebelum berinvestasi agar tidak menyesal kemudian.
Pelajaran yang kedua? Jangan pernah menamai anak anda Sarimin.
Sumber : http://janganserakah.com/2008/08/20/ori-seri-005-edison-pergi-ke-pasar/
Related posts
August 22, 2008 No Comments
Wanti-wanti: Berinvestasi di ORI
Oleh Reslian Pardede,
MUNCULNYA ORI atau obligasi negara yang dijual secara ritel tentu patut disambut gembira karena instrumen ini memperkaya pilihan investasi dari pemodal ritel. Selama ini, pemodal ritel (terutama yang memiliki modal terbatas) sulit mengakses obligasi secara langsung mengingat nominal transaksi obligasi yang cukup besar (biasanya minimum Rp 1M). Namun, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di ORI 001 (selanjutnya disebut ORI), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Pertama-tama, mari kita melihat imbal hasil yang diberikan ORI. Rencananya ORI akan memberikan kupon (menjadi imbal hasil jika dibeli pada harga 100%) sebesar 12,05% per tahun yang berarti setelah pajak menjadi 9,64% per tahun. Melihat karakteristik ORI dan pemodal ritel yang menjadi target utama ORI, sangat layak jika ORI dibandingkan dengan suku bunga deposito bulanan saat ini yang berada di kisaran 11,7% per tahun atau 9,36% per tahun setelah pajak. Ada selisih imbal hasil antara ORI dengan deposito bank sebesar 0,28% per tahun. Pertanyaannya, apakah selisih tersebut cukup untuk mengkompensasi “kekurangan” ORI dibanding deposito yaitu dalam hal tenor, likuiditas dan transparansi harga.
Pemodal ritel harus sungguh-sungguh memperhatikan horison investasi mereka jika hendak membeli ORI yang memiliki tenor (jangka waktu sampai jatuh tempo) tiga tahun. Selama ini, horison investasi sebagian besar pemodal ritel di Indonesia (yang berinvestasi di reksa dana dalam beberapa tahun terakhir) adalah jangka pendek, bahkan sangat pendek yang berkisar antara satu sampai tiga bulan. Sebenarnya horison investasi tidak harus match dengan tenor suatu instrumen. Mismatch antara horison investasi dan tenor bisa memberi capital gain namun bisa juga membawa capital loss.
Pelaku pasar professional bahkan seringkali dengan sengaja menciptakan mismatch dalam melakukan trading. Namun keuntungan tersebut hanya akan terealisir jika harga bergerak sesuai dengan posisi yang diambil pelaku pasar tersebut. Capital loss itu sendiri bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain pergerakan suku bunga. Bagaimana dengan peluang suku bunga untuk turun ke 10% yang oleh beberapa pengamat dikatakan cukup besar? Bukankah ada peluang memperoleh capital gain?
Peluang itu tentu saja ada. Akan tetapi, di tengah kecenderungan kenaikan suku bunga yang dilakukan beberapa bank sentral seperti di Jepang dan Australia belakangan ini dan harga minyak yang cenderung naik akibat eskalasi krisis Timur Tengah, peluang suku bunga untuk tidak turun atau bahkan naik juga ada. Lebih daripada itu, mengingat karakteristik pemodal ritel dan melihat bahwa pasar obligasi ritel ini sendiri belum teruji baik dari segi likuiditas maupun pembentukan harganya (price discovery) tentu hal yang wajar jika dikatakan bahwa eksposur terhadap capital loss lebih besar jika ORI dijual dalam jangka pendek.
Bagaimana dengan pemodal yang memiliki horison investasi kurang dari tiga tahun? Selain pergerakan harga akibat suku bunga seperti yang dijelaskan di atas, likuiditas menjadi faktor kunci yang harus dipertimbangkan oleh pemodal ritel seperti ini. Resiko likuiditas dikatakan kecil apabila kita bisa membeli atau menjual suatu instrumen secara cepat tanpa mempengaruhi harga secara signifikan. Ada banyak pelajaran yang bisa mengingatkan kita betapa pentingnya likuiditas ketika suatu industri keuangan berhubungan dengan nasabah atau pemodal ritel. Salah satu bank terbesar di Indonesia pernah ambruk karena di-rush oleh nasabah hanya dalam beberapa hari.
Industri reksa dana tahun lalu remuk redam setelah dihantam kepanikan pemodal ritel yang melakukan penarikan dana secara massal. Terjadi penurunan harga obligasi yang luar biasa yang tidak terkait dengan faktor utama penentu harga obligasi seperti pergerakan suku bunga maupun kemampuan bayar emiten. Semua terjadi karena kepanikan pemodal yang mengakibatkan terkurasnya likuiditas. Tetapi kedua peristiwa itu bisa kita golongkan sebagai kejadian luar biasa.
Bagaimana dengan likuiditas dalam keadaan normal? Ada dua indikator yang bisa menunjukkan tingginya likuiditas yaitu besarnya volume transaksi dan tipisnya perbedaan (spread) antara bid (penawaran harga beli) dengan asked price (penawaran harga jual). Untuk menciptakan volume transaksi yang besar, syarat utama yang harus terpenuhi adalah besarnya jumlah serta meratanya penyebaran pembeli dan penjual. Namun itu saja tidak cukup. Untuk itu diperlukan market maker. Bagi obligasi ritel, peran market maker ini menjadi sangat penting. Market maker tidak hanya berfungsi sebagai broker yang hanya mempertemukan pembeli dan penjual melainkan ikut aktif mengambil posisi atau melakukan transaksi dengan selalu memberikan kuotasi harga beli dan jual untuk suatu obligasi tertentu. Selama ini, di pasar obligasi Indonesia belum pernah ada market maker dalam arti yang sebenarnya. Pemodal ritel yang tidak mempunyai akses seluas pemodal institusional tentu akan sangat terbantu dengan adanya market maker karena market maker tidak hanya membantu likuiditas tetapi juga membantu proses price discovery dari suatu obligasi. Semakin baik proses price discovery maka semakin tipis spread yang terjadi.
Namun price discovery ini bukan sesuatu yang otomatis tercipta dengan adanya market maker. Ketersediaan market maker baru satu langkah. Market maker juga pelaku pasar yang tentunya ingin untung. Suatu hal yang wajar. Market maker bukan malaikat penolong yang menghilangkan resiko pasar. Oleh karena itu, ada langkah lain yang diperlukan untuk membantu pemodal ritel. Perlu dibuka akses seluas-luasnya terhadap informasi harga bagi pemodal ritel. Ini menjadi faktor penting dalam memberdayakan pemodal ritel. Bursa Efek Surabaya (BES) mengatakan akan melakukan hal ini. Kita belum tahu seberapa efektifnya informasi harga dari BES ini dalam membantu pemodal ritel. Ini masih akan diuji dalam praktiknya nanti. Namun mengingat karakteristik pasar obligasi di mana transaksi terjadi melalui jaringan telepon antar-dealer atau broker (over-the-counter), akses terhadap harga obligasi dengan sendirinya menjadi agak terbatas. Artinya, keterbatasan akses informasi ini merupakan konsekuensi dari karakteristik pasar obligasi itu sendiri. Ini bisa dikurangi tetapi tidak bisa dihilangkan sama sekali. Hal ini perlu dipahami oleh para pemodal ritel. Ada resiko bahwa pemodal ritel tidak memperoleh harga terbaik yang mungkin bisa dia peroleh.
Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, kita melihat bahwa tampaknya lebih aman bagi pemodal ritel yang membeli ORI untuk menyimpan ORI sampai jatuh tempo. Pemodal yang berniat menjual dalam waktu kurang dari tiga tahun perlu mempertimbangkan apakah perbedaan imbal hasil sebesar 0,28% per tahun cukup memadai untuk mengompensasi resiko-resiko seperti yang diuraikan di atas. Perbedaan 0,28% per tahun tersebut menurut saya pribadi agak “tanggung”. Tetapi ini memang pendapat yang bersifat subyektif. Bagi beberapa orang mungkin dibutuhkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengalihkan simpanan mereka dalam bentuk deposito satu bulan yang dananya bisa ditarik kapan saja (dalam waktu satu bulan), dengan “harga” yang pasti dan juga dijamin pemerintah ke bentuk investasi lainnya. Bagi beberapa orang lainnya, 0,28% mungkin sudah cukup.
Kembali pada ORI, kecuali anda adalah pemodal ritel yang mempunyai horison investasi tiga tahun dan/atau anda yakin suku bunga akan turun (sesuai dengan horison investasi anda) sebaiknya anda berpikir kembali sebelum membeli ORI. Sebaliknya, jika anda memang sudah siap dengan segala kemungkinan tersebut di atas, ini merupakan kesempatan untuk mencicipi bentuk investasi lain. Semua terpulang pada masing-masing pemodal. Tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti pemodal ritel untuk berinvestasi di ORI tetapi mengajak pemodal ritel untuk mengenal resiko lebih mendalam sehingga menjadi lebih siap dalam berinvestasi.**
Reslian Pardede, Pengamat Pasar Modal & Peneliti di The Institute for Ecosoc Rights
Related posts
August 22, 2008 No Comments
ORI Seri 5
Dalam artikel seri Edison’s Week in Review minggu lalu, saya telah menyinggung tentang peluncuran ORI seri 5 di akhir bulan ini. Ketika artikel itu ditulis, belum ada pengumuman berapa besarnya kupon ORI seri 5 tersebut. Perkiraan saya sendiri adalah sebesar 10,45-11%, dan saya menyarankan bahwa jika ternyata kuponnya dibawah angka tersebut, maka ada baiknya para pembaca blog mempertimbangkan untuk tidak membelinya di penawaran perdana, karena kemungkinan nasibnya bisa seperti ORI seri 4 yang harganya jatuh di pasar sekunder.
Tadi sore saya membaca artikel di detikfinance.com bahwa Dirjen Pengelolaan Utang telah memberikan keterangan resmi mengenai ORI seri 5 tersebut. Kupon untuk ORI seri 5 ini adalah sebesar 11,45%. Artikel di detikfinance.com tersebut menuliskan bahwa kupon tersebut adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan ORI seri sebelumnya, tetapi ini tidak benar karena ORI seri 1 memberikan kupon sebesar 12,05% (bukan 10,25% seperti yg ditulis dalam artikel tersebut).
Pemberian kupon sebesar 11,45% utk ORI seri 5 ini sendiri cukup mencengangkan saya. Mengapa? Ini karena saya sempat ‘melirik’ hasil pelelangan Surat Utang Negara (SUN) hari Selasa lalu (12 Agustus) dimana salah satu Obligasi yang dilelang adalah SUN seri FR0026 yang akan mature/jatuh tempo Oktober 2014. Pada pelelangan itu, Yield/hasil yang didapat oleh investor institusional utk obligasi tersebut hanya sebesar 11,51132%.
Bagi yang belum mengetahui apa itu SUN, kita bisa mengibaratkan SUN sebagai obligasi negara utk ‘partai besar’, sedangkan ORI sebaliknya adalah obligasi negara ‘eceran’. Sebagai ilustrasi, utk investasi di ORI, kita hanya membutuhkan Rp 5 juta, sedangkan untuk investasi langsung di SUN (mengikuti pelelangan lewat bank/institusi peserta lelang) dibutuhkan modal sebesar Rp 5 Milyar. Ada juga beberapa bank yang menawarkan investasi di SUN (tanpa mengikuti pelelangan), tetapi biasanya yield/hasilnya sedikit dibawah yield hasil pelelangan, dan nominal yang dibutuhkan pun tetap besar, sekitar Rp 500 juta.
Karena nilai nominalnya yang besar itu, biasanya SUN memperoleh bunga yang lebih tinggi di atas ORI (tidak berbeda dengan deposito, semakin besar nilai deposito, semakin besar bunga yang kita terima). Oleh karena itu, sesungguhnya cukup mengagetkan bahwa pemerintah menawarkan kupon ORI seri 5 sebesar 11,45% (hanya selisih sedikit dengan Yield SUN FR0026), terlebih lagi mengingat jatuh temponya lebih singkat (ORI seri 5 jatuh tempo 2013, dan SUN FR0026 jatuh tempo 2014).
Dilihat dari apa yang saya tulis di atas, investasi di ORI seri 5 ini bisa dianggap cukup atraktif. Mungkin pemerintah sengaja memberikan kupon yg cukup besar agar nasib ORI seri 5 ini tidak sama dengan ORI seri 4 yang harganya jatuh di pasar sekunder tidak lama setelah diterbitkan.
—–oOo—–
Dalam artikel ini, saya pikir ada baiknya juga saya memberikan beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan para investor yang tertarik untuk investasi di ORI.
Pertama-tama, ORI sebagai obligasi terbitan negara, boleh dikatakan mempunyai resiko yang sangat-sangat kecil. Jika pemerintah kesulitan dana untuk membayar bunga maupun pokok obligasi, secara teori pemerintah bisa tinggal menaikkan pajak untuk melunasi obligasi tersebut. Oleh karena itu, para investor ORI tidak perlu khawatir mengenai resiko ‘gagal-bayar’.
Kedua, ORI ini bisa dilihat sebagai alternatif ‘deposito’ bagi para investor dengan dana di atas Rp 100 juta. Seperti kita tahu, program penjaminan simpanan yang diadakan pemerintah hanya menjamin tabungan dan simpanan sampai dengan nilai Rp 100 juta. Oleh karena itu, orang-orang yang mempunyai deposito di atas Rp 100 juta yang ditaruh utk jangka panjang, mungkin ada baiknya mempertimbangkan menaruh sebagian dana tersebut di ORI seri 5. Dengan demikian nilai depositonya berkurang menjadi dibawah Rp 100 juta sehingga tetap dijamin oleh LPS (selama bunganya tidak di atas bunga wajar) dan investor tersebut juga bisa menikmati bunga di ORI yang lebih tinggi dari deposito pada umumnya.
Ketiga, jika di kemudian hari tingkat suku bunga di Indonesia turun, para investor ORI akan bisa menikmati Capital Gain/kenaikan harga ORI. Kalau itu terjadi, jika diinginkan, para investor ORI bisa menjual ORI-nya dan menikmati keuntungan dari kenaikan harga tersebut.
—–oOo—–
Meskipun di atas saya menulis bahwa penawaran ORI seri 5 ini cukup menarik, perlu diingat ORI adalah obligasi dan investor yang ingin berinvestasi dalam ORI harus memahami segala resiko yang terkait dengan obligasi. Bagi para pembaca blog yang terlalu belum mengerti tentang obligasi, bisa membaca 2 artikel lama saya mengenai obligasi yaitu Bond….James Bond serta Obligasi, Suku bunga dan Credit Rating.
Dalam kedua artikel tersebut saya telah menjelaskan mengenai resiko investasi obligasi secara umum yaitu resiko suku bunga dan resiko credit rating. Selain kedua resiko itu, para investor ORI harus juga mengetahui resiko yang dialami oleh setiap obligasi yang memberikan bunga yang besarnya tetap (fixed), yaitu resiko inflasi. Jika antara saat ini dan waktu ORI seri 5 itu jatuh tempo (2013) inflasi per tahun di atas 11,45%, maka bunga yang diterima oleh para Investor itu tidak akan cukup utk ‘mengejar’ inflasi.
Sumber : http://janganserakah.com/2008/08/14/ori-seri-5/
Related posts
August 22, 2008 No Comments

